Para penganut mistik Jawa sangat mempercayai mitos sebagai media untuk menafsirkan proses perjalanan hidupnya ke depan, maka tidak mengherankan apabila mereka sulit membedakan antara cerita yang bernuansa mitos, legenda bahkan realitas. Karena bagi mereka mitos memiliki makna bagi kehidupan kosmos sebagai bentuk pesan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun yang akan terjadi. Meskipun mitos dianggap hanya mengenai sebuah cerita tentang dewa-dewa, namun sesungguhnya mitos juga memiliki fungsi yang dapat menghantarkan manusia menuju pada kesunyataan dan kesempurnaan hidup.Seperti yang diungkapkan oleh Peursen, paling tidak ada tiga fungsi dalam mitos;Pertama, mitos dapat menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib, meskipun mitos tidak memberikan bahan informasinya. Namun mitos dapat membantu manusia untuk menghayati daya-daya itu sebagai suatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupannya.
Kedua, mitos bertalian erat dengan fungsinya yang pertama, yang dapat memberikan jaminan, sebab mitos merupakan perilaku dewa dalam melakukan sesuatu.
Ketiga, mitos memberikan pengetahuan pada manusia mengenai proses terjadinya alam, dalam kosmologi Jawa disebut-sebut dengan sangkan paraning dumadi yang dapat memberikan jaminan agar apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang diharapkannya. (Van Peursen, 1976).
Oleh karenanya para penganut mistik Jawa senantiasa bersandar pada hukum kosmos yang berlaku, hidup mereka tunduk pada kekuatan nasib. Proses kehidupan yang dijalaninya, melangkah tanpa adanya kehendak, semua bergantung pada alam. Sehingga segala bentuk keinginan terpendam dalam kenyataan kehidupan yang diterimanya, yaitu hidup apa adanya.
Perjalanan bathin yang dilakukan adalah ungkapan emosi yang paling tinggi untuk mewujudkan perubahan dari yang lahir (simbol keburukan), menuju pada yang bathin (simbol kebaikan) untuk mendapatkan sejatineng urip (kesejatian hidup).
Karena manusia adalah pusat dari totalitas kosmos, maka untuk mencapai tujuan dalam kesempurnaan hidup, manusia mencari obyek dalam rangka penyimbolan terhadap sesuatu yang diyakini dapat menyelesaikan dan memenuhi harapan hidupnya. Namun demikian, tanpa adanya proses mistis simbol tidak berfungsi apa-apa karena ia berdimensi profan. Simbol akan memiliki makna, apabila simbol itu berdimensi sakral yang berkaitan erat dengan ajaran-ajaran mistik. Apabila proses tersebut dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka manusia akan dapat bersatu dengan Tuhan, yaitu manuggaling kawula Gusti.
Penyimbolan tersebut dapat dilakukan oleh manusia apabila ia sadar akan dirinya. Karena manusia menggunakan simbol sebagai media berdasarkan pada kebutuhan dan kemampuan dalam memaknai hidup.
Makna Simbol Mistis
Simbol merupakan media komunikasi untuk mengungkapkan gejolak bathin dan pengalaman-pengalaman spiritual yang sulit diungkapkan dengan bahasa lahir. Oleh karena itu, pengalaman mistis dan penangkapan terhadap simbol, sangat bergantung pada latarbelakang serta kemampuan seseorang dalam memaknakannya.
Selain itu, simbol adalah tanda yang sentral bagi manusia yang bersifat fital, afektif dan emosional yang eksistensial bahkan total. Namun simbol dapat juga menjadi hanya sekedar sebagai alat tanpa makna apabila tersisih dari kehidupan. Selanjutnya menjadi mati dan hanya sekedar konsep yang kemudian menjadi parsial serta regional ( Anton Baker, 1995)
Nilai-nilai sakral dalam simbol, dapat ditemukan apabila manusia dapat mengendalikan diri dari aspek-aspek duniawi. Dan manusia harus sadar akan sangkan paraning dumadi, karena sangkan paraning dumadi adalah totalitas kehidupan manusia yang harus tetap dijaga keselarasannya, dan manusia merupakan pusatnya.
Apabila manusia telah sadar, maka ia harus melakukan laku tapa (semedi) untuk memupus dua bahaya dalam dirinya. Dua bahaya yang sering mencelakakan manusia tersebut adalah molimo dan pamrih. Sedangkan nakna dari nafsu pamrih adalah; senantiasa mementingkan diri sendiri, yang selalu ingin menange dewe, nefsu bendere dewe, dan nefsu butuhe dewe (Magnis Suseno, 1991).
Aktifitas yang demikian menurut Simuh, disebut dengan pengalaman mistik. Karena mistik merupakan kepercayaan bahwa manusia dapat mengadakan kominikasi langsung, atau bahkan bersatu dengan Tuhan (Kasunyataan Agung) melalui tanggapan bathin dalam meditasi untuk sadar pada Sangkan paraning dumadi (Simuh 1995). Dalam mistik Jawa, spiritualitas mendapat tekanan pada fakta bahwa segala bentuk gerakan atau proses penyatuan antara dirinya dengan Tuhan hanyalah kendaraan atau jalan untuk mencapai yang Hakiki, bukan hal yang prinsip (Paul Stange, 1998).
Sangkan paraning dumadi merupakan mulih asale wiji yang memiliki dimensi waktu secara menyeluruh, yakni alam purwa (alam sebelum lahir), alam madya (hidup di dunia) dan alam wasana (alam sesudah kematian) (Sindhunata,1999). Pada alam madya ini orang hendaknya hidup dengan banyak beramal pada sesama, untuk membangun kebersamaan sosial, kekeluargaan dan harmonisasi dalam kehidupan.
Pada alam madya ini manusia dapat menjelajah hidupnya dalam keadaan apapun sebagai batu uji untuk sampai pada kehidupan mistis yang menyejukkan dan mendamaikan. Menerima takdir Tuhan dengan apa adanya, tanpa menafikan kewajiban sosial dan kearifan lokal. Semoga.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar